Thor: Ragnarok di XXI TRANSMART

Dah lama nggak ngeblog. Sejak beberapa minggu yang lalu sebenarnya berencana untuk memulai lagi, terlebih sejak tau Kak Ai juga ngeblog lagi. Dan tadi setelah membaca postingan Awin, saya tergerak buat nulis ini.

S: Tadi aku nonton Thor di bioskop, keren loh. Kamu nonton di bioskop juga gih.
B: Baiklah sayang, akan kutonton di bioskop.

Begitulah kira-kira inti percakapan di suatu hari dengan kekasih yang jauh di mata tapi dekat di hati, yang mengawali quest saya untuk pergi nonton ke bioskop. Bioskop!? Emmm, terakhir kali pergi nonton ke bioskop itu… beberapa tahun yang lalu, nonton film Merantau bareng teman-teman Palanta di Padang Theatre. Tahun berapa? Lupa! Nonton di bioskop bukanlah suatu hal yang menarik bagi saya. It’s something that I can live without. Selain kurang suka keramaian, saya lebih suka nonton film di rumah. Bisa sambil melakukan aktivitas yang lain, tergantung genre film yang ditonton. Tapi karna dianjurkan oleh orang penting, ya… hehehe.

Setelah melihat jadwal, diputuskanlah untuk pergi nonton hari Senin malam. Mau pesan tiket lewat aplikasi Cinema21, eh ternyata harus buat akun DAN ngisi deposit. MALESIN.

img_20171113_193017-e1511625662125.jpg
Tiket nonton! Saya nggak mau ngisi deposit, akhirnya beli langsung di tempat. Karena nontonnya bukan saat baru tayang, sepi penonton dan datang kecepatan, saya bisa milih posisi kursi paling enak. Tengah ruangan!

Awalnya saya pikir Thor: Ragnarok sama saja seperti film-film superhero Marvel yang terdahulu, tapi… Baca lebih lanjut

Iklan

Ayo ngeblog dari Limau Manis

Tadi sebelm meluncur ke tkp, anak2 palanta ngumpul dulu di halte  psar baru. balablabla………..

Selera modern bernuansa tradisional

Awalnya hanya iseng browsing YouTube, buat referensi nge-update playlist… eh nemu grup music yang ‘Epic’,  Yoshida Brother yang dengan keren maenin musik rock pake alat musik tradisional Jepang, Shamisen. Dayum…

Well… kayaknya mainin musik rock pake alat musik tradisional itu asik ya. Kurasa ini yang namanya transformasi budaya akibat terjadinya akulturisasi. Selain bisa mengangkat ciri khas budaya, juga sekaligus menjaga suatu kesenian supaya tidak ditinggalkan dan akhirnya punah.

Selain Yoshida Brother dari Jepang, ada juga Bad Piper, pemusik dari Australia yang pandai mainin musik rock pake alat musik tradisional Scotland… bagpipes.

Coba kalo ada yang seperti si Bad Piper dan Yoshida Brother itu di Indonesia, maennya pake talempong ato saluang.

Mereka bilang…

rrrikkk… rrrikk… krwek krwek woeek… kriiiiiiiiikk… krwek… rikrikrik… riiiiiiiiiiiiiiiii… krwek krwek… rik rik woek woek woek riiii riiikriiii rikk riiiik riik riiik riiiik

Ya… kira-kira begitulah apa yang mereka sampaikan tadi. Mungkin tidak tepat seperti itu, ya… mungkin aku memang terlalu bodoh karena tidak dapat mengucapkannya kembali dengan tepat dan benar. Ah, sebaiknya kamu ikut mendengar langsung apa yang mereka katakan.

Ngelantur Singkat

Jauh di mata, jauh di hati, mukanya juga jauh… #gaje :-| Hahaha mulai lagi ini pikiran melayang-layang gak jelas gak tentu arah. Hari sabtu kemaren ada yang meninggal. Gue gak terlalu mikirin karena gak kenal dekat sama orangnya.Waktu orang-orang di sekitar lagi ngerumpi soal seputar kematian si bapak itu, yang kepikiran malah, “Kenapa acara pemakaman umumnya nggak meriah? Karena mayatnya di-formal-in.” :-| *kriuk*

FML

Gagal. Kalah. Jatuh. Merangkak. Bangkit. Terseok. Jatuh. Merangkak. Diinjak. Berhenti. Merangkak. Masih…

Eh, nggak separah itu kok.