So long, phone

Everything in this world have lifespan. That includes my phone. My possesion of that phone, to be exact. The phone itself was still functioning when I lost it despite of leaking battery, broken Wi-Fi, sticky power button, and a bit faulty OS.

I backtracked my way that night, trying to find it. Nada. Nothing else can be done, I have to accept fate, what happened is my fault. It’s sad because the phone is my first smartphone. I had plan to replace the battery and back cover (for the sticky power button) so it still can be used until it can’t be turned on at all and impossible to repair.

But… whats gone is gone. I just hope the phone is in someone else’s possession that really need it and will repair and take care of it better than I did.

Iklan

When there is will, there is flying dutchman

(not really, the curse has been lifted on the fifth movie of PoTC)

Not mine, took the pict from google
Two weeks I’ve been living in new habitat, still haven’t do any huge breakthrough. Still shedding skin I used to survive the old town that doesn’t fit anymore, it just restrain my growth. The decision to move to Bali was quite in a rush, didn’t make enough preparation. Just felt it’s the last chance I have, now or never, bought a flight ticket for the next month and finish some responsibility in the mean time. There are actually some projects that I want to do before my departure but i had become to stiff to move, can’t even start them. One of the thing I want to start is blogging again. Since the last blog post, I’ve been trying to write. They’re only end up as draft tho, and most have trashed away. I want to post at least monthly but I’ll do as much as I can and they’ll be in English. Not because of ‘sok keminggris’ but because I need to practice my English. A lot. My grammar is still sucks. Wish me luck! Well… not luck. Perseverance xD I supposed to do this many years ago. I hope I’m not too late.

Hello world

IMG_3808

12:56 AM, haven’t sleep yet. Still waiting for my batteries getting fully charged. Have a wedding reception to shoot tomorrow.

I don’t know… Have lots of thing inside my mind that need to be poured into writings or something else but I just can’t. Feels like my brain and my fingers can’t be synchronized. Maybe because I haven’t write something for a long time. Maybe because its so chaotic inside my mind. Maybe… I don’t know.

Thor: Ragnarok di XXI TRANSMART

Dah lama nggak ngeblog. Sejak beberapa minggu yang lalu sebenarnya berencana untuk memulai lagi, terlebih sejak tau Kak Ai juga ngeblog lagi. Dan tadi setelah membaca postingan Awin, saya tergerak buat nulis ini.

S: Tadi aku nonton Thor di bioskop, keren loh. Kamu nonton di bioskop juga gih.
B: Baiklah sayang, akan kutonton di bioskop.

Begitulah kira-kira inti percakapan di suatu hari dengan kekasih yang jauh di mata tapi dekat di hati, yang mengawali quest saya untuk pergi nonton ke bioskop. Bioskop!? Emmm, terakhir kali pergi nonton ke bioskop itu… beberapa tahun yang lalu, nonton film Merantau bareng teman-teman Palanta di Padang Theatre. Tahun berapa? Lupa! Nonton di bioskop bukanlah suatu hal yang menarik bagi saya. It’s something that I can live without. Selain kurang suka keramaian, saya lebih suka nonton film di rumah. Bisa sambil melakukan aktivitas yang lain, tergantung genre film yang ditonton. Tapi karna dianjurkan oleh orang penting, ya… hehehe.

Setelah melihat jadwal, diputuskanlah untuk pergi nonton hari Senin malam. Mau pesan tiket lewat aplikasi Cinema21, eh ternyata harus buat akun DAN ngisi deposit. MALESIN.

img_20171113_193017-e1511625662125.jpg
Tiket nonton! Saya nggak mau ngisi deposit, akhirnya beli langsung di tempat. Karena nontonnya bukan saat baru tayang, sepi penonton dan datang kecepatan, saya bisa milih posisi kursi paling enak. Tengah ruangan!

Awalnya saya pikir Thor: Ragnarok sama saja seperti film-film superhero Marvel yang terdahulu, tapi… Baca lebih lanjut

Selera modern bernuansa tradisional

Awalnya hanya iseng browsing YouTube, buat referensi nge-update playlist… eh nemu grup music yang ‘Epic’,  Yoshida Brother yang dengan keren maenin musik rock pake alat musik tradisional Jepang, Shamisen. Dayum…

Well… kayaknya mainin musik rock pake alat musik tradisional itu asik ya. Kurasa ini yang namanya transformasi budaya akibat terjadinya akulturisasi. Selain bisa mengangkat ciri khas budaya, juga sekaligus menjaga suatu kesenian supaya tidak ditinggalkan dan akhirnya punah.

Selain Yoshida Brother dari Jepang, ada juga Bad Piper, pemusik dari Australia yang pandai mainin musik rock pake alat musik tradisional Scotland… bagpipes.

Coba kalo ada yang seperti si Bad Piper dan Yoshida Brother itu di Indonesia, maennya pake talempong ato saluang.

Mereka bilang…

rrrikkk… rrrikk… krwek krwek woeek… kriiiiiiiiikk… krwek… rikrikrik… riiiiiiiiiiiiiiiii… krwek krwek… rik rik woek woek woek riiii riiikriiii rikk riiiik riik riiik riiiik

Ya… kira-kira begitulah apa yang mereka sampaikan tadi. Mungkin tidak tepat seperti itu, ya… mungkin aku memang terlalu bodoh karena tidak dapat mengucapkannya kembali dengan tepat dan benar. Ah, sebaiknya kamu ikut mendengar langsung apa yang mereka katakan.